“Satnight” Kemana?

Posted on

Malam Minggu itu istilah yang paling sering disebut oleh anak muda sebelum ada media sosial, seperti: Twitter, Facebook, Instagram, dsb.

Setelah anak muda mengenal media sosial, gaya bahasanya berubah. Menyebutkan Malam Minggu dengan singkatan yang English gitu.

Apaan tuh?

Iya, “Satnight”.

“Satnight” adalah singkatan dari Saturday Night. Yang artinya Malam Minggu.

Anak muda menggunakan istilah “Satnight” menjelang akhir pekan untuk janjian dengan teman sekolah atau teman spesial.

Biasanya kalau “Satnight”, anak muda nongkrong di tempat-tempat yang asyik untuk ngobrol atau “dinner” bersama.

Mereka membagikan aktifitasnya bersama teman di tempat nongkrong yang keren melalui media sosial.

Sehingga banyak orang yang melihat statusnya di media sosial.

Banyak yang penasaran ingin datang ke tempat itu.

Termasuk pasangan baru ataupun keluarga kecil (ayah, ibu, dan anak) merencanakan “Satnight” makan bersama di tempat yang tadi dilihat di media sosial para remaja.

Kini, gaya hidup masyarakat mulai berubah karena mudahnya moda transportasi dan banyaknya tempat untuk nongkrong anak muda.

Sehingga tempat nongkrong itu tidak hanya untuk anak muda yang sedang asyik-asyiknya main sama teman tetap juga pasangan suami-istri dan keluarga kecil ingin “refreshing” bersama orang-orang terkasih.

Kalau kamu “Satnight” ini mau kemana?

🔦

Seminar Online Selasaan: Solusi Jitu Menganalisis Butir Soal HOTS Menggunakan Rasch Model

Posted on

Penasarankah Bapak/Ibu tentang tema HOT seminar selasa malam tanggal 16 Oktober nanti?

“Careful evaluation of information that is portrayed as fact is critical.” ~Steven Redhead ~

Abad ke-21 ditandai dengan derasnya arus globalisasi serta cepatnya perkembangan teknologi. Maka dari itu, tidak heran jika guru zaman now harus bisa menaklukan para “digital native” (anak-anak yang lahir pada abad ini) yang tumbuh dewasa di dunia digital.

Guru masa kini, harus betul betul kreatif, harus serba bisa, termasuk menguasai keterampilan abad 21, salah satunya keterampilan literasi digital.

Model belajar untuk siswa juga sudah beda jauh dengan zaman waktu kita sekolah, karena zaman now siswa menjadi pemain aktif dalam aktivitas belajar, bukan hanya sekadar penerima informasi pasif.

Untuk menyambut tantangan yang luar biasa cetar ini, maka pendekatan dan model pembelajaran yang dipilih, harus lebih bermakna, kontekstual dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar dan membiasakan menjawab permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Truz, jika pembelajarannya sudah cetar badai karena sudah sering ikutan seminar SOS dan langsung cuzzz implementasi di kelas, maka alat evaluasi yang dipergunakan juga harus cucok meong dong,,,aummm 🐱🐱🐱.

Apa kita sudah ready dengan instrumen evaluasi yang bisa mengcapture hasil pembelajaran yang HOTS, pedes pede pedes.

So, Bapak dan Ibu, yuk kita latihan cara menganalisis butir soal yang HOTS dengan model Rasch, supaya perjuangan kita untuk memberikan pelayanan pada siswa, bisa paripurna karena instrumen evaluasi yang dipergunakan juga betul betul bisa memperlihatan peningkatan kompetensi belajar siswa yang HOTS banget. Setuju kaannnn??? 😍😍😍

Sooooo jreng jreng jreng,,, dalam Seminar Online Selasaan Edisi STEM Spesial bersama Pak Septian Karyana S.Pd., M.Si yang tampan, seorang program dan training officer dari SEAMEO Qitep in Science 😱 kita akan mengupas tuntas mengenai analisis butir soal, biar soal jadi tambah HOTS 🌶🌶🌶😀. Sehingga konsep, prinsip, dan teknik dari STEM atau pendekatan saintifik lainnya yang digunakan secara terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari bisa terimplementasi dengan baik, karena instrument evaluasi yang dipergunakan juga sesuai dan tepat guna. Wooow,,, menarik bukan??? 💃💃💃

So, Bapak/Ibu guru yang cetar di seluruh Indonesia, yuk kita bergabung dan duduk santai sambil menikmati kopi dan kue, untuk menyimak dan bertukar pengalaman dengan kami, keluarga besar tim Selasaan. Just don´t miss it and save the date.

Salam Edukasi! 😀☕😀

Seminar SOS edisi 16 Oktober 2018
Waktu : 19.00 – 21.00 WIB
Meeting number : 577 142 369
Meeting password : 12345
Meeting link : http://bit.ly/SOS16102018

PLPG #Day 9: Latihan Peer Teaching

Posted on Updated on

Hari ke-9 PLPG Tahun 2017 Tahap V di Hotel Ommaya adalah waktunya latihan peer teaching. Kali ini, rombel 2 dibagi menjadi 3 kelompok peer teaching. Satu kelompok peer teaching terdiri dari 10 orang. Saya masuk di kelompok 4.

Pelaksanaan latihan peer teaching sudah tidak bertempat di kelas rombel seperti hari ke-1 sampai dengan hari ke-8 kemarin. Kelompok peer teaching 4 berada di sebuah kamar hotel yang di-setting sedemikian rupa  untuk kelas peer teaching.

Exif_JPEG_420
Pak Budi sedang mengajar.

Saya memilih KD (Kompetensi Dasar) tentang announcement untuk latihan peer teaching. Saya sudah menyiapkan materi dan media pembelajaran sebelum pelaksaan peer teaching. Namun, saya belum menyelesaikan media untuk listening. Audio untuk listening saya adalah sebuah pengumuman di dalam pesawat yang disampaikan oleh seorang pramugari. Tidak mungkin saya mengisi suara perempuan untuk audio itu. Sehingga saya memutuskan untuk minta bantuan teman, ibu guru 1 kelompok peer teaching, untuk merekan suaranya dan tentunya saya sudah menyiapkan script-nya. Alhamdulillaah saya dapat bantuan dari Ibu Erna, teman 1 kelompok peer teaching. Saat latihan peer teaching akan dimulai, audio listening sudah ready. Saya sangat berterima kasih kepada beliau.

Instruktur yang memandu latihan peer teaching ini adalah Ibu Koesoma Ratih. Beliau yang kemarin mendampingi kelas saya. Beliau menawarkan urutan latihan peer teaching. Urut sesuai dengan nomor absen, diundi, atau siapa yang sudah siap bisa duluan. Teman-teman memutuskan sesuatu nomor absen.

Nomor absen saya adalah 7 di kelompok 4 ini. Urutan nomor 1 adalah Ibu Erna yang tadi saya mintai bantuan merekam audio untuk listening. Beliau menyampaikan belum siap karena media untuk latihan peer teaching belum digandakan/difotokopi. Kemudian Ibu Ratih menawarkan kepada peserta siapa mau jadi yang pertama. Saya mengambil kesempatan itu. Saya berfikir yang pertama itu yang terbaik dan bisa jadi contoh buat teman-teman serta teman-teman masih fokus saat mengikuti peer teaching. Sehingga kalau ada kekurangan pada saya dalam mengajar akan kelihatan dan saya akan mendapatkan koreksi yang jelas.

Benar saja, teman-teman fokus sekali memperhatikan cara saya mengajar dan saya mempunyai kekurangan yang tidak saya sadari. Koreksi instruktur untuk saya adalah, “not too much use Indonesian. It is English class. At least 60%. 40% Indonesian.”

Exif_JPEG_420
Semuanya butuh listrik.

Selesai saya latihan peer teaching barulah urut nomor dari 1, 2, 3, dan seterusnya. Saat pura-pura menjadi peserta didik, saya sambil menyelesaikan RPP saya untuk penilaian peer teaching yang belum saya selesaikan. Jadi, hari ini saya mengambil urutan pertama agar tidak terlalu lama fokus ke latihan peer teaching. Saya bisa fokus untuk memaksimalkan penilaian peer teaching besok pagi.

Cerita di atas adalah catatan harian saya saat mengikuti PLPG pada hari ke-9, hari Rabu, tanggal 29 November 2017.

PLPG #Day 8: Menyusun RPP untuk Peer Teaching

Posted on

Tak terasa sudah 2/3 perjalanan PLPG Tahun 2017 Tahap V di Hotel Ommaya ini. Ada suasana yang santai, ada yang lucu, dan ada yang menegangkan.

Hari ke-8 PLPG ini, kelas kami dipandu oleh 2 instruktur, yaitu Pak Zainal Arifin dan Ibu Koesoma Ratih. Beliau berdua mendampingi dan membimbing kelompok kami ber-29 untuk menyusun RPP 1 KD (Kompetensi Dasar). Kelas kami dibagi menjadi 2 kelompok. Nomor absen 1-15 dipandu dan dibimbing oleh Ibu Ratih. Nomor absen 16-29 dipandu dan dibimbing oleh Pak Arif.

IMG-20171211-WA0011
Pak Budi, teman satu kelompok saya, sedang presentasi.

Instruktur menjelaskan bahwa peserta boleh melanjutkan untuk menyelesaikan RPP yang dibuat pada pertemuan kemarin atau membuat RPP baru.

Saya memilih untuk melanjutkan dan menyempurnakan RPP yang saya susun kemarin karena RPP yang saya susun kemarin belum sempurna, menurut saya.

Setelah istirahat kedua, masuk sesi ketiga, ada informasi dari instruktur bahwa RPP yang digunakan untuk latihan peer teaching dan penilaian peer teaching harus berbeda. Saya shock karena RPP saya baru satu. Beruntunglah teman-teman yang tadi memutuskan untuk membuat RPP yang berbeda untuk hari ini. Sehingga teman-teman sudah punya 2 RPP.

Setelah RPP pertama selesai dan disahkan oleh instruktur dan mendapat penilaian bagus, saya mulai membuat RPP dengan KD yang berbeda. Sampai dengan berakhirnya sesi ke-4, sesi terakhir hari ini. Saya belum mampu menyelesaikan RPP kedua. Alhasil, saya punya PR untuk menyelesaikan RPP kedua ini. Padahal saya mempersiapkan untuk latihan peer teaching besok pagi.

Dari kejadian ini, saya dapat mengambil pelajaran antara lain: pertama, sebagai guru/pendidik hendaklah memberikan instruksi yang jelas dan utuh di awal waktu. Kalau informasi itu tidak jelas dan tidak utuh bisa berakibat seperti yang saya alami di atas. Seandainya instruktur saya tadi menyampaikan kalau RPP untuk latihan peer teaching dan penilaian peer teaching harus berbeda maka saya akan membuat RPP baru, yang berbeda dengan RPP yang disusun kemarin. Karena di awal sesi tadi pagi, istruktur mengijinkan untuk melanjutkan penyusunan RPP yang kemarin. Kedua, perfection makes satisfaction. Statement ini tidak benar sepenuhnya. Statement ini belum selesai. Seharusnya berlanjut dengan Satisfaction needs hard efforts. Ini yang saya alami karena saya mengejar kesempurnaan RPP karena saya akan puas. Namun, itu harus diperjuangkan. Saya harus lembur di kamar menyelesaikan RPP kedua.

PLPG #Day 7: Istilah “Item” Muncul di RPP

Posted on

“RPP itu disusun per item.” Inilah statement yang disampaikan oleh salah satu instruktur kelas kami di hari ke-7 PLPG Tahun 2017 Tahap V di Hotel Ommaya.

ommaya-hotel

Sontak, teman-teman peserta satu kelas PLPG saling memandang dan ada yang langsung mengacungkan tangan untuk bertanya. Ada yang bertanya begini, “Bu, maksudnya item itu per KD?”

Ibu Rini, instruktur yang mengungkapkan statement tadi, menjawab, “Bukan per KD, tapi per item.”

Kami bingung karena yang dipahami oleh kami, peserta PLPG ini, adalah RPP itu disusun per KD (Kompetensi Dasar). Yang diminta KD itu apa, goal-nya apa pada KD itu harus diselesaikan dalam 1 RPP. Di dalam RPP, terdapat langkah-lagkah pembelajaran, media, metode, hingga penilaian itu untuk mencapai goal dari KD itu. Ini adalah berdasarkan diskusi 1 hari yang lalu.

“Item itu adalah pokok permasalahan dalam 1 KD. Kalau dalam 1 KD itu terdapat 2 pokok permasalahan, maka 1 KD tersebut dibuat dalam 2 RPP yang berbeda.”

Setelah mendapatkan penjelasan dari Ibu Rini cukup lama, kami akhirnya paham dengan istilah “item” menurut beliau.

Kemudian, kami diminta untuk duduk di kursi yang ditata melingkar di pinggir kelas urut sesuai dengan nomor absen dan mulai berlatih menyusun RPP sesuai dengan jenjang pendidikan masing-masing tempat peserta PLPG mengajar.

Satu hari ini, targetnya adalah menyusun 1 RPP untuk dikonsultasikan dengan instruktur apakah peserta PLPG bisa menyusun RPP dengan baik dan benar. Apabila ada kekurangan dalam menyusun RPP, instruktur akan memberikan koreksi dan masukan agar RPP disusun dengan benar.

Hal-hal lucu selama 7 hari PLPG puncaknya terjadi pada hari ini. Kami tidak menyangka instruktur akan memberikan respon seperti ini. Beliau tertawa seperti tertawanya orang mendengar atau melihat sesuatu yang lucu. Salah satu teman kami bertanya kepada instruktur dan direspon dengan tertawa dan menyampaikan bahwa “mosok” seperti itu masih ditanyakan. Saya percaya bapak/ibu sudah mengajar lama. Bapak/ibu bisa menentukan sendiri mana yang tepat. Karena kami tidak mengira akan mendapat respon tawa dari instruktur dan kami kaget sehingga kami satu kelas pun ikut tertawa. Tertawa ganda. Tertawa karena respon instruktur dan tertawa karena pertanyaan dari teman kami.

Menurut saya, tertawanya beliau tidak pada tempatnya. Tidak menunjukkan profesionalisme seorang instruktur. Walaupun tawanya memberikan hiburan bagi kami peserta PLPG. Namun, tawanya berlebihan. Tawanya berulang lebih dari 3 kali.

Pada sesi terakhir, RPP yang sudah selesai disusun untuk dikonsultasikan kepada instruktur dan mendapatkan koreksi serta masukan apabila ada kekurangannya dan bisa digunakan untuk latihan peer teaching pada hari ke-9.

PLPG Day #6: Jangan Ditolak

Posted on Updated on

Penjelasan materi profesional dan pedagogik pada PLPG Tahun 2017 Tahap V di Hotel Ommaya ini sudah selesai. Tibalah waktunya Workshop SSP. Workshop SSP di hari pertama ini adalah setengah perjalanan PLPG. Seperti yang teman-teman ketahui PLPG ini akan berlangsung selama 12 hari.

Workshop SSP ini membahas tentang penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang akan digunakan untuk penilaian peer teaching. Mulai hari ini, instrukturnya 2 dosen dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Hari ini workshopnya diisi dengan diskusi penyusunan RPP. Kelas kami yang terdiri dari 29 peserta dibagi menjadi 3 kelompok. Pembagian kelompok didasarkan dari kabupaten asal peserta.

IMG-20171127-WA0002
Foto bersama di akhir sesi Workshop SSP 1. Ini adalah ekspresi saat menunggu pengumuman hasil UTL.

Diskusi kelompok mengangkat tema bagian-bagian penyusunan RPP. Untuk peserta yang berasal dari Kabupaten Klaten mendapat bagian untuk mendiskusikan tentang bagian RPP, yaitu: Identitas RPP, Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK), Tujuan Pembelajaran, dan Materi Pembelajaran. Untuk peserta yang berasal dari Kabupaten Karanganyar mendapat bagian untuk mendiskusikan  bagian RPP, yaitu: Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran; Media, Alat, dan Bahan; dan Langkah-langkah Pembelajaran. Untuk kelompok saya, peserta dari Kabupaten Sukoharjo mendapat bagian untuk mendiskusikan tentang Penilaian Pembelajaran.

Diskusi kelompok berlangsung 1 sesi. Selesai sesi 1, peserta istirahat untuk menikmati menu snack tea-break. Saya tidak menyebutnya coffee break karena memang tidak ada kopinya.

Sesi kedua dimulai. Inilah saatnya presentasi masing-masing kelompok. Banyak ilmu yang saya peroleh dari sesi presentasi ini. Saya melihat ada juga yang masing kurang dari penjelasan tentang penyusunan RPP. Saya menyampaikan pendapat saya kepada penyaji kelompok lain. Ada juga pertanyaan dari peserta lain kepada penyaji. Memang ada peserta yang belum memahami betul cara menyusun RPP dengan benar.

Di setiap akhir presentasi, instruktur menyimpulkan dan memberikan masukan untuk penyusunan RPP yang benar sesuai peraturan yang ada, Agar masukan dari instruktur dapat ditindaklanjuti oleh semua peserta.

Yang paling saya ingat dan berkesan bagi saya adalah penyaji dari Kabupaten Karanganyar. Beliau adalah Pak Widodo yang kemarin disuruh Prof. Endang untuk ambil buku di kamar. Setelah Pak Widodo menyajikan hasil diskusi kelompoknya tentang penyusun RPP bagian kedua banyak teman-teman peserta yang jadi bingung dengan penjelasannya dan ada beberapa masukan dari teman-teman. Saya pun ikut-ikutan memberi masukan. Namun, semua masukan dari teman-teman dan saya ditolak dengan pendapat pribadinya.

Di akhir presentasinya, instruktur juga mengingatkan kepada Pak Widodo bahwa masukan teman-teman itu baik sehingga jangan ditolak masukannya.

Catatan:

Coretan di atas terjadi pada hari Minggu, 26 November 2017. Maaf kalau saya baru share hari ini. Maklum, pada saat PLPG kemarin, saya tidak bisa membagi waktu dengan baik.