MANAJEMEN IKHLAS

Posted on Updated on

Ikhlas itu perlu latihan secara kontinyu. Caranya dengan memulai suatu amal kebaikan dari hal-hal kecil. Jika terus menerus dilakukan, insya Allah perasaan ikhlas itu akan bisa diperoleh dan hilanglah perasaan riya (sombong).
Saran itu disampaikan motivator Rahasia Sukses Alquran (RSQ) Power, Setyadi Abu Jundi Rabbani, saat ditemui Espos seusai mengisi training motivasi RSQ Power, 8 Rahasia Qur’ani di Balai Tawangarum, Balaikota Solo, beberapa waktu lalu.
Muslim yang juga menjabat sebagai ketua Yayasan Pengembangan Umat Sidik ini menerangkan ketika bersedekah misalnya, mulailah dari jumlah kecil dan ada target untuk selalu memperbanyak jumlah sedekah di masa mendatang. ”Misalnya pekan ini bersedekah Rp 1.000, pekan depan usahakan meningkat, misalnya menjadi Rp 1.500 dan seterusnya. Jika hal ini menjadi kebiasaan, lama kelamaan tidak akan berat ketika hendak beramal. Perasaan ikhlas pun akan muncul,” terangnya.
Hal lain yang sangat penting untuk bisa meraih keikhlasan, katanya, yakni senantiasa berdoa, memohon kepada Allah SWT agar diberikan keikhlasan dalam beramal. ”Ketika beramal, kita harus yakin bahwa Allah SWT akan membalasnya. Misalnya ketika saya beramal, tak lama kemudian saya mendapat ganti yang lebih banyak. Hal ini karena memang telah menjadi janji Allah SWT,” katanya.
Tak jauh beda, salah satu pengasuh Pesantren Al Es’af Solo, Dr Hasan El Qudsy MA MEd, mengatakan agar seseorang bisa ikhlas ketika beramal, ia harus menghubungkan dirinya hanya kepada Allah SWT. Tak ada niat apapun ketika beramal selain mengharapkan rida Allah SWT. Yakinlah bahwa apapun yang dilakukan akan menjadi investasi di akhirat.
“Keikhlasan berhubungan erat dengan kekhusyukkan seseorang. Ikhlas merupakan suatu proses dan benar-benar menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT. Ikhlas juga tidak bertentangan dengan profesionalisme,” jelasnya.
Bersifat pribadi
Dengan demikian, katanya, agar seseorang bisa ikhlas, amal yang dilakukan tidak mesti disembunyikan. Pada kondisi tertentu, misalnya untuk memberikan pengajaran, amal juga perlu ditunjukkan kepada orang banyak. Hal ini karena keikhlasan bersifat sangat pribadi. Hanya orang itu dan Allah yang tahu.
”Suatu amal dikatakan telah ikhlas, jika diniatkan hanya karena Allah SWT dan amal yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam,” terangnya.
Allah SWT berfirman, ”Adalah mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus,” (QS Al Bayyinah: 5).
Dalam ayat lainnya Allah SWT berfirman, ”Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya),” (QS Al Mukmin: 14).
Senada, Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) Solo, Fachruddin SAg MM, menerangkan keikhlasan seseorang ketika beramal sangat berhubungan dengan tingkat keimanannya kepada Allah SWT.
”Seorang muslim yang beriman menyadari bahwa dirinya mempunyai kewajiban dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Salah satunya beramal dengan ikhlas. Menyerahkan sepenuhnya segala amal yang dilakukan hanya kepada Allah SWT,” jelasnya.
Usaha mencari nafkah yang didasari iman dengan niat yang ikhlas, terangnya, juga merupakan bagian dari amal kebaikan.
Hasan juga mengingatkan agar seorang manusia tidak mendoakan sesuatu yang tidak baik. Terlebih ketika orangtua mendoakan anaknya. Hal ini karena Allah SWT memiliki sifat Maha Mendengar.
”Ketika berdoa, seorang muslim juga boleh bertawasul menggunakan asmaul husna. Misalnya ketika menginginkan diberi rezeki, berdoalah dengan menyebut ’Ya allah ya razaq.” terangnya.
Allah SWT berfirman, ”Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan,” (QS Al A’raaf: 180).

Sumber:

Eni Widiastuti:. 2009. Manajemen Ikhlas. Khazanah Keluarga Hal. 03. Solo: Solo Pos.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s