6 Kebiasaan Bayi

Posted on Updated on

Tiap tahapan perkembangan pastilah ada hal-hal baru yang dipelajari anak. Namun, tak jarang kebiasaan-kebiasaan di tahap perkembangan sebelumnya masih terbawa. Contohnya kebiasaan-kebiasaan semasa bayi yang seringkali masih terbawa sampai anak berusia Batita. Beberapa kebiasaan itu masih bisa dikategorikan normal, namun beberapa lainnya harus diwaspadai. Seberapa jauh orang tua mencermati hal ini? Yang terpenting, orang tua paham betul mana yang masih boleh dilakukan anak dan mana yang sebaiknya tidak.

1. Menghisap Jari, ngempeng atau ngedot.

Menurut teori Psikoseksual yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, sejak bayi lahir sampai usia 18 bulan, anak mendapatkan kepuasan melalui fase oral. Kepuasan itu di dapat anak lewat sensasi di sekitar daerah mulutnya, baik itu berupa aktifitas makan, minum, ngedot, ngempeng, menghisap jari, dan sebagainya. Hal ini wajar saja karena semua anak pastilah akan melewati tahapan yang satu ini.

Upaya pencegahan tentu saja dapat dilakukan oleh orang tua supaya anak tidak kebablasan dengan kebiasaan tersebut. Beberapa langkah ini dapat dilakukan:

  • Kenalkan cara minum dengan gelas.
  • Jelaskan kebiasaannya itu dapat berakibat buruk. Seperti mengganggu pertumbuhan gigi, Kuman bisa masuk ke dalam jika tangannya tidak bersih dan sebagainya.
  • Jika sudah rusak, mintalah anak untuk membuang dot-nya sendiri.
  • Alihkan perhatiannya pada hal-hal lain yang juga mendatangkan kepuasaan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian, dan sebagainya.
  • Jika sudah diberikan penjelasan, anak masih saja melanjutkan kebiasaan ngenyot jari, bisa saja orang tua mengakalinya dengan memberikan sesuatu yang pahit di jarinya. Namun, lakukan hal ini sebagai upaya terakhir agar anak tidak merasa “ditipu” oleh orang tuanya sendiri.

Beberapa dampak buruk akan muncul bila anak dibiarkan lekat dengan kebiasaannya ini. Selain pertumbuhan giginya menjadi tidak bagus, secara psikologis anak juga akan kehilangan rasa aman (secure feeling) bila meninggalkan kebiasaannya yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini. Padahal jika terus terbawa sampai besar, bukan tidak mungkin ia akan menjadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.

2. Ngompol dan Pup di Celana.

Menurut Freud, di usia Batita anak sedang memasuki fase anal. Anak akan mendapatkan kepuasaan saat menahan BAK (Buang air kecil) maupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal, sampai usia 3 tahun pun masih bisa dikategorikan wajar. Walau begitu, ketika anak sudah bisa duduk, orang tua sebaiknya mulai mengajarkan toilet training. Mungkin lebih mudah jika diawali dengan latihan BAB di kloset, dibandingkan dengan mengajarkan anak BAK. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menyetop kebiasaan BAK dan BAB di celana:

  • Biasakan agar setiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.
  • Tiap 3 jam sekali, dudukan anak di kloset, meski ia terlihat tidak kebelet BAK. Begitupun menjelang tidur malam dan kala terbangun. Meski mungkin saat itu anak belum ingin BAK, kebiasaan ini dapat membantunya tidak ngompol lagi.
  • Jangan terbiasa mentolerir kebiasaan anak BAB di celana yang akan membuat anak mendapatkan kepuasan/pleasure. Bila dari mimiknya anak terlihat mau BAB, segera angkat dan dudukkan di kloset. Sebab jika dibiarkan saja BAB di celana, lama kelamaan anak akan merasa keenakan dan akhirnya malah tidak dapat BAB di kloset.
  • Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol, tapi kemudian mendadak ngompol lagi. Mungkin saja ada masalah psikologis yang sedang dialaminya, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi jika hanya sesekali saja dalam jangka waktu sekian lama tak perlu dikhawatirkan karena bisa jadi anak hanya terlalu capai atau mengalami mimpi buruk. Lalu bagaimana cara orang tua bisa mendeteksi adanya ganggguan psikologis akibat ia ngompol lagi? salah satunya jika selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi dan kemudian secara berturut-turut anak mulai ngompol lagi, besar kemungkinan ia mengalami gangguan psikologis.
  • Jangan menganggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Sebab masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk jika terus terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Dalam pergaulannya, sosialisasinya akan terganggu karena ia akan menjadi bahan ledekan teman-temannya.

3. Memainkan Alat Kelamin

Satu lagi kebiasaan yang masih terbawa sampai Batita menurut teori Freud adalah kebiasaan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic. Kebiasaan ini masih dianggap normal. Bahkan sampai anak berusia Batita. Walau dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman begitu anak bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini dapat menyebabkan alat kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi bila ada kuman masuk. Anak perlu tahu bahwa area di sekitar alat kelamin itu sangat sensitif.

Jika cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua dapat mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga bisa memberikannya kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain tetabuhan dan sebagainya. Tapi, harus diingat, orang tua jangan panik bila menemukan anaknya sedang melakukan kegiatan ini. Jangan marahi anak apalagi bila disertai ancaman, karena setiap anak pasti melewati fase ini.

Menjadi masalah jika kebiasaan ini terbawa sampai anak besar. Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan perbuatan yang tidak pantas, anak pun sebaiknya tahu bawah kepuasaan/kesenangannya bisa diperoleh dengan cara lain, selain memainkan alat kelamin.

4. Ngeces

Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan bayi karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna. Apalagi pada anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak, hingga dalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia Batita awal atau sampai sekitar usia 1.5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua sebaiknya aware karena batita di usia tersebut sudah bisa diajak berkomunikasi dan meniru orang dewasa.

Melalui komunikasi, orang tua dapat menginstruksikan anak, misalnya, “Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba di lap dong.” Atau, karena anak dapat belajar meniru pada usia ini, orang tua dapat mencontohkan bagaimana menelan dan menghapus air liurnya. Melalui latihan terus menerus, diharapkan anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang sih, proses ini butuh waktu alias tidak bisa bersifat instan. Setelah berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan mengingatkannya. Semisal saat anak sedang asyik melakukan sesuatu, tanpa disadari dia ngeces lagi, padahal sebelumnya hal ini sudah ditinggalkannya.

Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya masih bisa dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar apabila sampai usia 3 tahunan anak belum lepas dari kebiasaan ini. Sebaiknya dicek ke dokter untuk memeriksa adanya kelainan pada anak.

5. Menangis Minta Sesuatu

Menangis adalah suatu hal yang wajar. Namun, menangis di usia Batita bisa dikategorikan tidak wajar apabila masih digunakan sebagai cara berkomunikasi. Di usia 2 tahunan, anak seharusnya sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain. Saat haus, lapar, sakit dan sebagainya, anak seharusnya sudah bisa mengungkapkannya tanpa menangis. Jadi, di usia tersebut, jika tangis masih dipergunakan sebagai cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, itu dapat dikategorikan tidak wajar. Beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua sehubungan dengan kebiasaan anak ini:

  • Tekankan pada anak untuk mengungkapkan apa yang dinginkannya, tapi tidak dengan menangis. Jika haus, anak harus bilang haus untuk minta minum, bukan dengan menangis atau merengek.
  • Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan sebagainya. Namun, tangis bukan cara berkomunikasi untuk mendapatkan sesuatu seperti halnya bayi.
  • Konsistensi menjadi penting disini. Sekali orang tua mengatakan tidak, besok lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap mengatakan tidak yang tentu saja harus disertai penjelasa. Sekali saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar untuk memanfaatkan kesempatan dan mencari celah.
  • Reward dan punishment juga dapat digunakan dalam kasus ini. Bila anak sudah bisa meminta sesuatu tanpa menangis, orang tua dapat melontarkan pujian. Sedangkan apabila anak kembali menangis untuk minta sesuatu, anak bisa “dihukum” sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama.

6. Kelekatan yang berlebihan

Kelekatan bayi dengan orang tuanya, terutama ibu adalah suatu hal yang wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang lain karena tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua atau significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang sering dilihatnya.

Menurut teori Erik Erikson, pada masa ini sedang terbentuk trust & distrust terhadap lingkungan. Namun, bila kelekatan ini terus dibawa sampai Batita, menjadi tidak wajar lagi. Saat anak sudah dapat berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak mestinya telah belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain diluar mereka.

Anak yang mempunyai kelekatan yang berlebihan dengan orang tuanya, akan “takut” berhadapan dengan orang lain. Padahal ini tidak seharusnya terjadi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk menyiasatinya:

  • Mulai kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang tua dan pengasuh atau orang-orang terdekatnya selama ini.
  • Ajari anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.
  • Ajarkan anak untuk memberi salam pada orang-orang yang ditemuinya (dengan sepengetahuan kita tentunya). Dengan begitu anak bisa melihat orang lain pun belum tentu “berbahaya” baginya.
  • Minta anak menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan kepadanya agar tumbuh perasaan trust dalam diri anak.
  • Bisa juga sesekali anak ditinggal dalam waktu yang agak lama. Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya, pasti akan kembali lagi. Bila dibiarkan saja, kelekatan yang berlebihan akan merusak kemampuan bersosialisasi anak. Anak jadi tidak berani bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan ke depannya, kehidupan sosialnya pun akan terganggu.

TIPS UNTUK ORANG TUA

Beberapa hal berikut ini disarankan sehubungan dengan kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai Batita:

  • Begitu orang tua tahu batasan usia dimana anak seharusnya sudah mulai belajar hal-hal tertentu, sebaiknya orang tua mulai aware. Makin dini usia anak diajarkan, makin keci kemungkinan kebiasaan tersebut terbawa sampai Batita.
  • Konsistensi adalah kunci dalam mengajarkan segala sesuatu pada anak. Sekali orang tua mengambil sikap A, seharusnya sikap itu tetap dipertahankan saat menghadapi keadaan yang sama.
  • Beri pujian atau reward kala anak berhasil melakukan perilaku yang diajarkan sehingga anak merasa yakin bahwa perbuatannya benar.
  • Jangan bosan memberikan penjelasan mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Jangan hanya sekali memberitahu dan setelahnya hanya mengatakan,: “kemarin mama sudah bilang, kan? Adek kok ngak ngerti juga?”. Ingat kemampuan anak usia ini untuk mengingat sesuatu masih terbatas.
  • Orang tua harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang diajarkannya pada anak akan mendatangkan manfaat. Ingat, orang tua adalah fasilitator yang membentuk anak.

 

Sumber:

http://www.olalababy.com/index.php?option=com_content&view=article&id=11:6-kebiasaan-bayi-yang-masih-terbawa-sampai-batita&catid=28:current-users&Itemid=44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s