Alarm, Sang Pengingat

Posted on

Alarm di handphoneku telah berdering. Ia disiplin sekali membangunku. Tidak pakai kurang dan tidak pakai lebih. Itulah hebatnya mesin. Kalau sudah diatur untuk bekerja jam 3, dia akan bekerja jam 3. Tidak jam 2, tidak jam 4. Tidak ada toleransi. Beda dengan manusia. Manusia mempunyai rasa toleransi yang tinggi. Manusia berencana bangun jam 3. Tiba saatnya jam 3, mata masih ngantuk. Susah sekali mata ini untuk bangun. Karena masih mempunyai toleransi yang tinggi. “Sudahlah, tidur lagi. Masih ngantuk. Nanti bangun jam 4.”, gumam dalam hati. Ya, itulah salah satu kelebihan mesin kekurangan manusia dalam hal disiplin.

Semalam aku sudah mengatur alarm di handphone untuk berdering jam 3. Aku jadi bangun lebih awal dibanding istriku. Padahal mata ini masih sulit sekali untuk dibuka. Udara masih dingin. Dalam hati, aku berdialog dengan diriku sendiri. “Ayo, dar! Kamu punya target yang harus kamu selesaikan. Kamu ingin Tahajud. Kamu ingin menulis cerita dan buku. Kamu ingin mempersiapkan materi mengajar. Kamu ingin menyelesaikan pekerjaan kemarin yang belum selesai.” Akhirnya, aku bisa bangun juga. Biar nggak ngantuk, aku langsung mandi. Biar seger.

Saat aku berdiri hendak menunaikan sholat Tahajud, aku melihat anak dan istriku masih nyenyak tidur. Aku teringat keinginan mereka yang disampaikan kepadaku. Aku jadi sadar. Aku ini tempat peraduan mereka. Lalu aku mengadu pada siapa? Lalu aku niatkan sholat Tahajud. Aku ingin curhat pada Allah untuk menyampaikan keinginanku. Setelah Tahajud aku berdoa semoga Allah memudahkan jalanku untuk memperbesar usahaku, LPK Kawan Edukasi, menjauhkan keluargaku dari berbagai macam fitnah, mendekatkan rejeki yang jauh dan memudahkan rejeki yang sulit, membantu saya melunasi hutang-hutangku, dan membantu saya mewujudkan keinginan anak dan istriku. Amin.

Yang dapat membantu kita untuk disiplin adalah PENGINGAT. Sifat manusia itu adalah pelupa. Maka perlu ada sesuatu yang dapat mengingatkan. Kadang saat kita mendapat musibah, kita ingat kepada Allah. Saat tidak mendapat musibah, kita lupa sama Allah. Jadi musibah itu adalah pengingat. Tapi kita kan tidak ingin diingatkan dengan diberikan musibah bukan. Karena kita tidak ingin mendapatkan musibah untuk mengingatkan kita, maka kita harus peka mengamati, menganalisis apa yang terjadi pada orang atau benda terdekat kita yang bisa kita jadikan pengingat. Misalnya alarm itu tadi. Alarm jam 3 berbunyi mengingatkan kita untuk bangun jam 3.

 

 

 

One thought on “Alarm, Sang Pengingat

    Laku said:
    1 October 2012 at 14:44

    Salam Blogger Indonesia, jika anda gemar menulis di blog serta memiliki waktu luang, ikutilah Blog Review Competition 2012 By Laku.com dengan Hadiah Total 16 juta Rupiah untuk 20 pemenang. Jadi kesempatan menangnya sangat besar lho.

    Rincian Pemenang:
    Pemenang I: Uang tunai Rp. 5.000.000
    Pemenang II: Uang tunai Rp. 3.000.000
    Pemenang III: Uang tunai Rp. 1.500.000
    Pemenang 4-10: Uang tunai Rp. 500.000
    Pemenang 11-20: Uang tunai Rp. 300.000

    Silahkan daftarkan artikel blog anda di Blog Review Competition 2012 By Laku.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s