Gusar Karena “Benda Kesayangan” Tertunda

Posted on

Resah hati ini bila target yang sudah ditetapkan tidak terlaksana/tercapai. Di sisi lain, target bisa menjadi salah satu percepatan untuk mencapai tujuan hidup. Tapi, bisa juga menjadi penyakit. Iya, penyakit hati. Hati selalu gusar, resah, gelisah.

Lalu bagaimana agar target yang sudah kita tetapkan sebelumnya tidak menjadi penyakit hati, tapi menjadi percepatan menjadikan hidup ini lebih baik?

Agar itu bisa terwujud adalah pertama, umumkan target yang akan kita capai di khalayak orang banyak. Jadi, kita akan malu bila target yang sudah kita tetapkan dan diketahui orang banyak tidak kita lakukan. Malu, kan kalau tidak tercapai. Dikiranya nanti kita OMDO (Omong Doang).

Kedua, ya segera ACTION NOW. Apapun kondisinya, saat target itu harus dicapai pada waktu itu.

Hal ini, gusar/resah/gelisah saat target yang sudah ditetapkan belum dilakukan, pernah saya alami. Yaitu, sebelumnya saya berkunjung di sebuah blog yang memberikan tantangan kepada para blogger untuk menulis cerita, puisi, esai, dan lain-lain berdasarkan 15 tema yang sudah ditentukan. Kemudian, saya memberikan komentar di blog tersebut bahwa saya akan memenuhi tantangan tersebut. Komentar saya kurang lebih: “Tunggu saja saya akan menulis tentang salah satu tema, Benda Kesayangan, setelah saya menulis komentar ini.”

Beberapa hari setelah saya menuliskan komentar itu, saya selalu teringat target yang sudah saya tetapkan ketika online. Ini cukup mengganggu pikiran saya. Karena saya belum bisa memenuhi janji saya di komentar itu.

Akhirnya saya tetapkan untuk mulai menulisnya, hasilnya seperti berikut ini:

Sore itu, saya naik bus umum untuk pulang ke kampung halaman. Pandangan saya terfokus pada seorang anak laki-laki kecil bersama ayahnya yang duduk di depan tempat saya. Kenapa saya fokus memperhatikan mereka. Karena anak ini tidur di pangkuan ayahnya dengan memegangi guling kecilnya.

Kok bisa begitu?

Iya, soalnya anak laki-laki itu memegangi gulungnya sangat erat sekali. Kelihatan dari guling kecilnya sampai bisa tertekuk.

Saat guling kecil itu terlepas karena dia tidur dengan nyenyak anak itu langsung terbangun dan mencari guling sambil matanya terpejam. Seketika itu ayahnya langsung mengambilkannya dan mendekatkan dengan pelukan anaknya.

Beberapa saat setelah itu, saya ngobrol dengan ayahnya. “Mau turun mana, pak?”, tanya saya. Dengan ramah dia menjawab, “Perempatan Gemolong, mas. Mas turun mana?”

“Purwodadi, pak” jawab saya. “Bapak sama adiknya saja. Nggak sama ibunya.”

Beliau menjelaskan, “Ibunya masih kerja pulangnya nanti sore.”

Itu adalah basa-basi saya untuk memulai percakapan. Padahal maksud saya adalah kenapa adik itu, anaknya bapak tadi, terlihat tidak mau melepaskan/jauh dari guling kecil itu.

“Itu guling kesayangan anaknya, ya pak?” tanya saya.

Beliau menjelaskan, “Iya mas. Itu adalah guling kesayangannya. Guling itu adalah hadiah ulang tahun dari ibunya. Anak saya ini nggak bisa jauh-jauh dari guling ini. Kemanapun pergi guling itu harus ada di dekatnya.”

Lanjutnya, “Dulu pernah, waktu pergi piknik sekeluarga dan guling ini lupa tidak dibawa. Di tengah jalan ketika dia ingat dia minta saya untuk kembali mengambilkan guling itu. Dia marah, ngamuk. Minta diambilkan guling ini. Kemudian, saya menuruti permintaanya. Iya, agar piknik keluarga ini nyaman, saya putuskan untuk putar balik kembali ke rumah untuk mengambil guling ini.”

Dari kejadian singkat di atas memberikan gambaran bagi kita bahwa:

Pertama, sebuah benda kesayangan mampu menjadi sumber energi ketenangan hati, nyaman bagi pemiliknya. Bila benda itu tidak ada di dekatnya, dia akan cemas, gusar.

Kedua, sebuah benda kesayangan mampu mengalahkan kasih sayang orang lain, contohnya cerita di atas. Biasanya anak laki-laki itu paling dekat dengan ibunya, dia tidak bisa jauh-jauh dari ibu. Tapi, karena sudah membawa benda kesayangannya tidak jadi masalah.

Itu, pengalaman saya tentang benda kesayangan. Semoga bisa memberikan inspirasi buat kamu. Iya, kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s