Variasi dalam Pembalajaran

Posted on

Mungkin kita, guru, pernah menjumpai siswa yang biasanya aktif di dalam kelas, kini tidak aktif lagi saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Atau mungkin yang paling ekstrim lagi, salah satu atau beberapa siswa kita tidur di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung.

Melihat kondisi seperti ini, guru dipandang perlu mengambil langkah. Yang pertama, guru menemukan penyebabnya.

Apa yang menyebabkan siswa tidak aktif lagi. Apakah karena siswa sedang mengalami masalah pribadi atau cara mengajar guru membosankan bagi siswa?

Apa yang menyebabkan siswa tidur di dalam kelas. Apakah karena siswa kurang tidur semalam atau mungkin tidak suka dengan gurunya yang mengajarnya monoton?

Setelah menemukan penyebabnya, langkah kedua yang perlu diambil adalah merencanakan tindakan apa yang perlu dilakukan. Dan rencana tindakan yang saya maksud perlu diambil guru ini adalah inovasi dalam pembelajaran.

Inovasi pembelajaran perlu dilakukan guru agar memberikan suasana yang menarik bagi siswa, kemudian siswa memperhatikan materi yang disampaikan guru, dan siswa menjadi kreatif. Karena melihat contoh dari gurunya yang setiap datang ke kelas selalu membawa suasana yang berbeda saat mengajar.

Inovasi Pembelajaran

Menurut Mulyasa (2005: 79), variasi pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu: variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar, varasi dalam pola interaksi, dan variasi dalam kegiatan.

Varisi dalam mengajar yang dapat dilakukan seperti:

  1. Variasi suara: rendah, tinggi, besar, kecil;
  2. Memusatkan perhatian;
  3. Membuat kesenyapan sejenak (diam sejenak);
  4. Mengadakan kontak pandang dengan peserta didik;
  5. Variasi gerakan badan dan mimik; dan
  6. Mengubah posisi; misalnya dari depan kelas, berkeliling di tengah kelas, dan ke belakang kelas, tetapi jangan mengganggu suasana pembelajaran.

Variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar yang dapat dilakukan seperti:

  1. Variasi alat dan bahan yang dapat dilihat;
  2. Variasi alat dan bahan yang dapat didengar;
  3. Variasi alat dan bahan yang dapat diraba dan dimanipulasi; dan
  4. Variasi penggunaan sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar.

Variasi dalam pola interaksi yang dapat dilakukan seperti:

  1. Variasi dalam pengelompokkan peserta didik: klasikal, kelompok besar, kelompok kecil dan perorangan;
  2. Variasi tempat kegiatan pembelajaran: di kelas dan di luar kelas;
  3. Variasi dalam pola pengaturan guru: seorang guru, dan tim;
  4. Variasi dalam pengaturan hubungan guru dengan peserta didik: langsung (tatap muka), dan melalui media;
  5. Variasi dalam struktur peristiwa pembelajaran: terbuka dan tertutup;
  6. Variasi dalam pengorganisasian pesan: deuktif dan induktif; dan
  7. Variasi dalam pengelolaan pesan: ekspositorik dan heuristik atau hipotetik.

Variasi dalam kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan seperti:

  1. Variasi dalam penggunaan metode pembelajaran;
  2. Variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar;
  3. Variasi dalam pemberian contoh dan ilustrasi; dan
  4. Variasi dalam instruksi dan kegiatan peserta didik.

Sumber:

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s