Selamat Hari Ayah

Posted on Updated on

Sore ini, saya buka internet. Seperti biasa, saya langsung buka google.com untuk cek e-mail. Pandangan saya langsung terfokus pada satu titik, Google Doodle hari ini. Seperti ini tampilannya.

Screenshot 2015-11-12 17.00.18

Ternyata Google Doodle ini untuk memperingati Hari Ayah. Saya langsung googling dan ketemu di Wikipedia bahwa di Indonesia, Hari Ayah dirayakan mulai 12 November 2006 di Solo pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saya langsung teringat ayah saya. Ayah saya sudah tua sekarang. Usianya sudah 63 tahun. Mohon bantuan doa dari teman-teman untuk kesehatan beliau. Karena beberapa waktu yang lalu, beliau sakit. Hingga saat ini, beliau masih sering cek ke doktor.

Terima kasih buat teman-teman yang berkenan mendoakan beiau. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rizki pada teman-teman. Amiin.

Saat masih sering bersama-sama dulu, di masa-masa sekolah, saya mengenal beliau adalah sosok yang keras, tegas, tangguh dan pantang menyerah. Bahkan di tengah-tengah keterbasan keluarga beliau menyemangati saya ketika saya mau kuliah. Beliau berpesan kepada saya. Dan sebagai bentuk penghargaan saya atas beliau agar saya tidak lupa, saya menulisnya di motto pada skripsi saya. Pesannya adalah sebagai berikut:

Sing penting kowe ngelakoni sing tenanan, madhep mantep, ora menggak-menggok, mengko kabeh ono dalane.

Saat kuliah, saya mulai berpisah dengan beliau. Berpisah jarak. Saya kuliah dan tinggal di kos. Pulang hanya 2 minggu sekali bahkan 1 bulan sekali.

Lulus kuliah, saya menikah dan tinggal bersama istri dan anak saya di Sukoharjo. Ibu saya sering menelepon untuk menanyakan kabar cucunya (anak saya), menantunya (istri saya), dan anaknya (saya).

Ternyata itu adalah salah satu cara ayah saya untuk mendengar suara saya. Kok bisa. Iya, ayah saya tidak mau menelepon saya langsung. Beliau meminta ibu saya yang menelepon. Kemudian hp di loudspeaker agar dengar suara saya.

Kata ibu, ayah saya sering meneteskan air mata (menangis) ketika mendengar suara saya. Kangen katanya. Padahal biasanya kalau sudah bertemu ayah tampak tegar, tidak menangis seperti ibu saya yang kalau saya mudik ibu selalu nangis.

Ayah selalu ingin tampak tegar di hadapan saya (anaknya). Namun, beliau memiliki hati yang lembut.

Ayah. Di Hari Ayah ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas semua jasamu. Menyayangiku hingga saat ini. Kasih sayangmu selalu terasa walaupun kita berada di kota yang berbeda. Ayah di Grobogan. Saya di Sukoharjo.

Keluarga Besar
Foto Kebersamaan dengan Ayah, Ibu, Adik, Istri, Anak, dan Keponakan saat Lebaran yang lalu.

Tidak lupa saya berdoa untuk kesehatan ayah agar tetap bisa menemani istrimu (ibuku) dan mengingatkan saya untuk saling menyayangi. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s