guru

7 Cara Mengembangkan Kecerdasan Emosi dalam Pembelajaran

Posted on

Bila guru mengharapkan kualitas pendidikan dan pembelajaran di kelas tercapai secara optimal, guru perlu memahami bagaimana membina diri pribadi dan peserta didik untuk memiliki kecerdasan emosional yang stabil.

Dengan memiliki kecerdasan emosional yang stabil diharapkan guru dan peserta didik dapat memahami diri dan lingkungan secara tepat, memiliki rasa percaya diri, tidak iri hati, dengki, cemas, takut, murung, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah marah.

7 caraBerikut ini 7 cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosi dalam pembelajaran:

  1. Menyediakan lingkungan yang kondusif;
  2. Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis;
  3. Mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh peserta didik;
  4. Membantu peserta didik menemukan solusi dalam setiap masalah yang sedang dihadapinya;
  5. Melibatkan peserta didik sevara optimal dalam pembelajaran, baik secara fisik, social, maupun emosional;
  6. Merespon setiap perilaku peserta didik secara positif, dan menghindari respon yang negative; dan
  7. Menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran.
Advertisements

7 Petuah untuk Guru di dalam Kelas

Posted on

Saat guru berada di dalam kelas, semua gerak-geriknya dipantau oleh siswa. Untuk itu, jagalah sikap-sikap berikut ini ketika di dalam kelas:

  1. Jangan mengucapkan kata-kata atau sifat yang dapat melukai hati seorang murid.
  2. Jangan terlalu banyak tertawa. Karena hal ini dapat menurunkan wibawa seorang guru.
  3. Jangan memberikan nasihat yang terlalu berlebihan.
  4. Jangan pernah berbohong dalam hal sekecil apa pun agar tidak kehilangan kepercayaan dari murid.
  5. Berusahalah untuk menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang selalu memperhatikan dan mengupayakan kebaikan untuk mereka dengan tanpa pamrih.
  6. Sifat Anda di dalam kelas harus tenang, berwibawa, dan aktif.
  7. Anda harus berusaha untuk menyebarkan akhlak mulia kepada murid.

 

Sumber: Khalifah, Mahmud dan Usamah Quthub. 2009. Menjadi Guru yang Dirindu. Surakarta: Ziyad Visi Media.

Empat Kompetensi, Guru sebagai Pembimbing

Posted on Updated on

Selain sebagai pendidik dan pengajar, peran guru juga sebagai pembimbing. Yaitu membimbing perjalanan perkembangan peserta didik dalam hal pengetahuan dan pengalamannya. Membimbing dari yang belum tahu agar menjadi tahu, belum paham menjadi paham, hingga membimbing agar perkembangan fisik, mental, emosial, moral, dan spiritual berkembang.

Sumber: http://made82math.wordpress.com
http://made82math.wordpress.com

Sebagai pembimbing, guru wajib memiliki empat kompetensi, yaitu:

  1. Merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Guru menetapkan apa yang telah dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan latar belakang dan kemampuannya, serta kompetensi apa yang mereka perlukan untuk dipelajari dalam mencapai tujuan. Untuk merumuskan tujuan, guru perlu melihat dan memahami seluruh aspek perkembangan peserta didik.
  2. Melaksanakan kegiatan belajar yang tidak hanya jasmaniah saja, tetapi psikologis. Guru harus mampu membimbing peserta didik untuk mendapatkan pengalaman dan membentuk kompetensi yang akan mengantar mereka mencapai tujuan.
  3. Memaknai kegiatan belajar. Guru harus mampu memberikan kehidupan dan arti terhadap kegiatan belajar. Bisa jadi pebelajaran direncanakan dengan baik, dilaksanakan secara tuntas dan rinci, tetapi kurang relevan, kurang hidup, kurang bermakna, kurang menantang rasa ingin tahu, dan kurang imajinatif.
  4. Melaksanakan penilaian. Penilaian dalam hal perannya sebagai pembimbing adalah guru mampu mampu menjawab pertanyaan, seperti: Bagaimana keadaan peserta didik dalam pembelajaran? Bagaimana peserta didik membentuk kompetensi? Bagaimana peserta didik mencapai tujuan? Jika berhasil mengapa, dan jika tidak berhasil mengapa? dan Apa yang bisa dilakukan di masa mendatang agar pembelajaran menjadi sebuah perjalan yang lebih baik? Apakah peserta didik dilibatkan dalam menilai kemajuan dan keberhasilan, sehingga mereka dapat mengarahkan dirinya?

Sumber:

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Halaman 40-42. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.

Guru sebagai Pengajar

Posted on Updated on

Tugas utama seorang guru adalah melaksanakan pembelajaran. Seseorang yang melaksanakan tugas pembelajaran disebut pengajar. Sehingga guru juga disebut pengajar.

Di dalam pembelajaran, terdapat sebuah proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang dilakukan oleh seorang pengajar. Dimana proses itu dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya faktor guru.

simulasi-mengajar-mutia-aprilia
http://www.uimengajar.com/galeri-call-for-pengajar-simulasi-mengajar/

Menurut Mulyasa (2005: 39), terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan guru dalam pembelajaran, yaitu:

  1. Membuat ilustrasi, menghubungkan sesuatu yang sedang dipelajari peserta didik dengan sesuatu yang telah diketahuinya, dan pada waktu yang sama memberikan tambahan pengalaman kepada mereka.
  2. Mendefinisikan, meletakkan sesuatu yang dipelajari secara jelas dan sederhana, dengan menggunakan latihan dan pengalaman serta pengertian yang dimiliki oleh peserta didik.
  3. Menganalisis, membahas masalah yang telah dipelajari bagian demi bagian, sebagaimana orang mengatakan: “cuts the learning into chewable bites.”
  4. Mensintesis, mengembalikan bagian-bagian yang telah dibahas ke dalam suatu konsep yang utuh sehingga memiliki arti, hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain nampak jelas, dan setiap masalah itu tetap berhubungan dengan keseluruhan yang lebih besar.
  5. Bertanya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan tajam agar apa yang dipelajari menjadi lebih jelas, seperti yang dilakukan Socrates.
  6. Merespon, mereaksi dan menanggapi pertanyaan peserta didik. Pembelajaran akan lebih efektif jika guru dapat merespon setiap pertanyaan peserta didik.
  7. Mendengarkan, memahami peserta didik, dan berusaha menyederhanakan setiap masalah, serta membuat kesulitan nampak jelas baik bagi guru maupun peserta didik.
  8. Menciptakan kepercayaan, peserta didik akan memberikan kepercayaan terhadap keberhasilan guru dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi dasar.
  9. Memberikan pandangan yang bervariasi, melihat bahan yang dipelajari dari berbagai sudut pandang, dan melihat masalah dalam kombinasi yang bervariasi.
  10. Menyediakan media untuk mengkaji materi standar, memberikan pengalaman yang bervariasi melalui media pembelajaran, dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi standar.
  11. Menyesuaikan metode pembelajaran, menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik serta menghubungkan materi baru dengan sesuatu yang telah dipelajari.
  12. Memberikan nada perasaan, membuat pembelajaran menjadi lebih bermaksana, dan hidup melalui antusias dan semangat.

Sumber:

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Halaman 38-40. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.

Guru sebagai Pendidik

Posted on Updated on

Menurut Mulyasa (2005: 37), guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.

Berkaitan dengan tanggung jawab; guru harus mengetahui, serta memahami nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Berkenaan dengan wibawa; guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial, dan intelektual dalam pribadinya, serta memiliki kelebihan dalam pemahaman ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan.

Guru juga harus mampu mengambil keputusan secara mandiri (independent), terutama dalam berbagai hal yang berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik, dan lingkungan. Guru harus mampu bertindak dan mengambil keputusan secara cepat, tepat waktu, dan tepat sasaran, terutama berkaitan dengan masalah pembelajaran dan peserta didik, tidak menunggu perintah atasan atau kepala sekolah.

Sedangkan disiplin; dimaksudkan bahwa guru harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten, dan kesadaran profesional, karena mereka bertugas untuk mendisiplinkan para peserta didik di sekolah, terutama dalam pembelajaran. Oleh karena itu, dalam menanamkan displin guru harus memulai dari dirinya sendiri, dalam berbagai tindakan dan perilakunya.

Dari uraian di atas, kita, guru sudah seharusnya untuk selalu memegang teguh 4 standar kualitas pribadi sebagai pendidik tersebut. Kita memahaminya, mengamalkannya/mengimplementasikannya baik dalam kehidupan di sekolah maupun di masyarakat, dan tidak lupa mengevaluasinya apakah sudah ada perbaikan dari dalam diri kita ini, sebagai guru.

Sumber:

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Halaman 37-38. Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya.

Ketika Guru Sibuk dengan Administrasi Pembelajaran

Posted on

Tugas utama seorang guru ada tiga, yaitu: menyiapkan, melaksanakan, dan mengeveluasi pembelajaran. Iya, ada tiga. Cuma tiga? Itu adalah tugas utamanya, belum yang lain kalau guru mendapat tugas tambahan, seperti: kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua program studi, wali kelas, dan lain sebagainya. Jadi, pada akhirnya tugas guru itu banyak.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin fokus di tugas utama seorang guru. Seperti yang disebutkan di atas adalah menyiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Betul. Tugas utama cuma tiga, tapi di dalam masing-masing tugas utama tersebut sangat banyak. Tugas utama guru yang pertama adalah menyiapkan pembelajaran. Guru wajib menyusun program tahunan, program semester, menentukan KKM, dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) berdasarkan silabus dan kalender pendidikan.

Tugas yang kedua adalah melaksanakan pembelajaran. Guru harus hadir di kelas untuk mengajar. Dimulai dari kegiatan awal atau pendahuluan, dilanjutkan kegiatan inti, dan kegiatan akhir atau penutup. Dimana hal ini memerlukan keterampilan tersendiri yang tidak bisa semua orang bisa melakukannya dan harus tercatat dalam RPP yang telah dibuat sebelumnya. Dengan kata lain, guru mengajar sesuai dengan RPP yang telah dibuat sebelumnya. Istilah kerennya adalah kerjakan apa yang kamu tulis.

Ketiga adalah mengevaluasi pembelajaran. Guru mengadakan ulangan setelah materi disampaikan. Guru menyusun kisi-kisi ulangan dan soal ulangan, menggandakan soal, melaksanakan ulangan, mengoreksi, menganalisis, dan melaporkan.

Bagi guru profesional ketiga tugas utama di atas harus terpenuhi. Semua yang dilakukan oleh guru dalam tiga tugas utama tersebut harus tercatat rapi dalam administrasi guru.

Mungkin karena terlalu banyaknya rincian tugas ini atau belum memahami betul membuat administrasi guru ini akan menjadi tugas yang terasa berat dan setiap hari sibuk membuat administrasi.

Salah satu akibat dan sibuknya guru membuat administrasi mengajar, guru lupa dengan tugas lain yaitu harus senantiasa meng-upgrade diri dengan membaca, melatih diri tentang metode dan model pembelajaran yang menarik. Karena guru berusaha membuat administrasi yang lengkap tapi pembelajarannya biasa-biasa saja. Yang parah adalah siswa menjadi korbannya, tidak maksimal menguasai ilmu dalam mata pelajaran yang diajarkan oleh gurunya.

Sebagai renungan bersama, mari kita senantiasa berusaha menjadi guru professional. Melaksanakan tugas utama dan meningkatkan nilai diri agar siswa kita bisa meneruskan cita-cita mulia negeri tercinta.

Kembali ke KTSP, Belajar Lagi

Posted on

Awal Desember yang lalu, tepatnya tanggal 5 Desember 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menyampaikan bahwa Implementasi Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah baru mulai menerapkan pada tahun pelajaran 2014/2015 untuk diberhentikan sementara (moratorium). Mengingat masih banyak kekurangan fasilitas pendukung implementasi Kurikulum 2013 (kurtilas) ini di tiap-tiap sekolah, seperti: buku guru, buku siswa, belum semua guru mengikuti diklat kurikulum 2013, dan lain sebagainya.

Dengan diberhentikannya sementara implementasi kurikulum 2013, maka untuk sementara waktu tiap-tiap sekolah yang diminta untuk menghentikan implementasi kurtilas tadi untuk menggunakan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Dengan kata lain, guru harus mengingat kembali hal-ihwal terkait KTSP atau istilah kerennya ya guru harus belajar lagi.

Pantas memang bila implementasi kurtilas dimoratorium. Karena benar bahwa pendukung kurtilas belum sempurna. Terbukti beberapa sekolah belum menyerahkan laporan hasil kompetensi peserta didik (raport). Sesuai kalender pendidikan raport diserahkan kepada orang tua/wali pada tanggal 20 Desember 2014. Hingga hari ini, masih ada sekolah yang belum menyerahkan raport. Menurut informasi dari teman-teman di tempat saya mengajar di salah satu sekolah baru akan menyampaikan raport pada hari pertama semester genap.

Beban guru semakin berat saja. Guru dipusingkan dengan implementasi kurikulum yang belum sempurna. Kemudian harus diberhentikan. Kemudian harus belajar lagi tentang pembelajaran dengan KTSP. Dan lagi, menyelesaikan nilai raport yang kemarin belum diselesaikan. Lagi-lagi, harus menyiapkan materi pembelajaran di semester genap ini.

Berat memang tugas guru. Tapi semuanya harus di HHN (Hadapi, Hayati, dan Nikmati).

Guru semangat mengajar adalah teladan bagi siswa. Karena dengan teladan inilah siswa akan lebih cepat terbentuk karakternya. Sesuai dengan nilai PBKB yang dieluh-eluhkan pada KTSP.

OK. Selamat berkarya.